Mutualisme Organisasi dan Mahasiswa

Pada dasarnya organisasi merupakan ruang laboratorium untuk aktualisasi ragam cara pikir atau proses ber-mahasiswa, dalam hal ini ibarat kata ada dua hal yang harus saling berkoneksi secara selaras. Namun dalam beberapa fakta periodesasi ada hal yang masih dirasa kurang maksimal dalam arti proses kematangan ber-mahasiswa yang kurang sempurna. Kesempurnaan tersebut bisa dilihat dari seberapa besar kadar intelektualitas personal anggota secara pribadi dan seberapa berpengaruh peranan organisasi dalam memberi sumbangsih kepada anggota secara personal maupun kebijakan-kebijakan organisasi secara lembaga terhadap sekitar ruang akademika kampus.

Diakui atau tidak, bahwasanya organisasi tidak ubahnya dengan hunian biasa (benda mati), namun ketika berbicara organisasi maka disitulah ada nuansa hidup yang lebih bernilai. Hal ini bisa dilihat adanya struktur organisasi metode-metode ataupun panduan berjalannya kepengurusan terlebih lagi dikenal organisasi mempunyai trilogy, AD/ART, GBHO dan peraturan-peraturan yang sudah diundangkan dalam pertemuan-pertemuan resmi, serta aturan sebagai jalannya organisasi. Jadi meskipun sahabat-sahabat memunyai ide dan gagasan dalam ranah gerak organisasi maka sudah sepatutnya bersandar pada aturan-aturan organisasi.

Tantangan di era milenial seperti saat ini tentunya tidaklah semudah membalikkan tangan, terlebih perangkat informasi media elektronik begitu berkembang pesat dengan beragam program aplikasi di dalamnya. Seperti halnya candu game online yang begitu mewabah bagi kalangan mahasiswa, hal ini bisa dilihat di tempat-tempat nongkrong para mahasiswa. Ketika mau menilai secara jujur seberapa banyak waktu mereka diluangkan dengan permainan-permainan berbasis online tersebut dengan membaca buku yang bisa menunjang nilai akademik mereka, apalagi membaca buku dan diskusi untuk menambah wawasan mereka, maka sudah pasti waktu luang mereka cenderung dihabiskan dengan “permainan-permainan” online tersebut.

Melihat kasus di atas ironi memang, di satu sisi mahasiswa wajib berpikir kritis namun di sisi lain mereka terlarut dalam sadarnya mereka menikmati rasa “candu” tersebut. Dalam situasi seperti saat ini, perlu dibangunnya kembali nuansa diskusi sehingga menghadirkan dialektik intelektual yang komprehensif. Secara logika saja, sangat mustahil suatu organisasi melahirkan kader-kader yang memunyai ide dan gagasan yang brilian serta nalar kritis untuk memperbaiki keadaan sekitar tanpa didasari kebiasaan membaca dan berdiskusi. Maka dari itu, diperlukan kesadaran untuk membangun nuansa pada arah yang lebih baik dan berkualitas di dalam organisasi. Sehingga dalam mengembangkan amanah organisasi di tiap periode dapat menghasilkan output kader yang kompeten di tiap-tiap bidang.

Untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah, tentunya tiap personal harus sadar pada prinsip aksi-reaksi ataupun sering dikenal pada hukum kausalitas. Dalam hal ini membaca dan berdiskusi adalah aksi, sementara aktualisasi nilai diranah gerakan baik gerakan intelektualitas, gerakan kaderisasi maupun gerakan turun jalan yang sifatnya auto-kritik terhadap kebijakan merupakan reaksi. Dari titik itulah antara lembaga organisasi dan tiap person kepengurusan mempunyai tali kesinambungan yang kuat dan utuh saling menghidupi dan saling menguntungkan, lembaga hidup dan terhidupi oleh nuansa yang kapabel dan setiap orang bisa mengembangkan potensi-potensi internal sehinga tercipta kader-kader yang militan dengan kapasitas keintelektualan yang mumpuni sehingga akan hadir sebuah generasi emas yang dirindukan oleh para pendahulu.

Perlu disadari bahwa apalah sebuah organisasi yang didalamnya lengkap dengan segala panduan berorganisasi, namun tiap personal yang terikat terlebih secara tanggung jawab era kepengurusan masih meraba-raba terhadap definisi ruang gerak organisasi. Begitupun sebaliknya apalah arti personal yang ada di organisasi tanpa panduan arah gerak kepengurusan. Jadi begitulah organisasi dan kepengurusan, berorganisasi bukanlah berkomunitas yang hanya sekadar berbicara kesamaan paham ataupun hobi yang tak lama akan ditelan masa.

Seharusnya sebuah organisasi dijadikan tempat dalam proses penempatan diri dimana harus merasakan pahit manisnya sebuah perjuangan, berjuang menyelesaikan akademik, berjuang mengembangkan potensi diri baik secara karya tulis, karya berfikir (mengasah keintelektualan), karya perjuangan aksi untuk mengubah keadaan sekitar agar lebih baik. Bukankah sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia. Namun sebelum itu, untuk diri kita agar bermanfaat haruslah ditempa dengan proses yang keras dan harus “memaksakan diri” belajar lebih giat karena jika tidak, kita akan menjadi objek yang dimanfaatkan.

21 Replies to “Mutualisme Organisasi dan Mahasiswa”

  1. I like the helpful info you provide for your articles. I will bookmark your blog and test again here regularly. I am rather sure I will learn a lot of new stuff proper right here! Best of luck for the next!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *